Hey Millennials, Apakah Multitasking Good or No Good ?

Setiap kita memiliki beragam daftar pekerjaan (to do list), segudang aktifitas yang membutuhkan tanggung jawab dari kita, untuk kita kerjakan dan selesaikan. Dan daftar tersebut tidak akan habis dan malah akan menumpuk jika kita tidak dapat menyelesaikannya dengan benar.

Mahasiswa/i harus mengikuti setiap pembelajaran (mata kuliah) di kampus agar bisa lulus tepat waktu, karyawan harus menyelesaikan pendingan pekerjaan di kantor agar bisa gajian dan dapat bonus, dan olahragawan harus berlatih sekuat tenaga agar bisa menang dalam lomba atau pertandingan, dan lain sebagainya.


Saya lebih suka memaparkan sesuatu dengan ilustrasi atau cerita, kali ini saya akan menceritakan seorang mahasiswa bernama Jaultop, dia adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi terkenal di Indonesia yaitu Universitas Indonesia jurusan Hukum.

Pada semester awal kuliah, Si Jaultop sangat rajin kuliah, mengerjakan tugas, dan fokus mempelajari setiap mata kuliah yang ada di semester awal, dan hasil nilai yang dia peroleh pun sangat memuaskan di semester tersebut.

Dalam perjalanan waktu si Jaultop ini sudah semakin mengenal lingkungan kampus, berteman dengan mahasiswa dari jurusan lain, mulai mengenal organisasi di kampus, kegiatan seni dan olahraga, kegiatan keagamaan dan lain sebagainya.

Dan ternyata si Jaultop mulai mengikuti kegiatan diluar kuliah, dia mulai bergabung dengan salah satu organisasi mahasiswa di kampus, otomatis "to do list" nya si Jaultop pun harus bertambah.

Singkat cerita di akhir semester si Jaultop bukannya menghasilkan nilai yang bagus, di kegiatan organisasi juga tidak "produktif". Dan pada saat ditanya si Jaultop berdalih mengatakan "tidak punya waktu yang cukup" sibuk ini dan sibuk itulah.

Fakta yang mengejutkan adalah bahwa semua orang memiliki jumlah waktu yang sama setiap hari yaitu 24 Jam. Tidak ada orang yang memiliki waktu di atas atau pun di bawah 24 jam sehari. Tetapi ternyata dengan waktu yang sama tidak semua bisa bekerja dengan efektif dan produktif.

Berikut ini adalah fase-fase yang saya lalui ketika berusaha untuk memutuskan "do less" saya sendiri, dan ternyata sangat sulit loh gaess... ada aja hambatannya, padahal "melakukan lebih sedikit loh" kenapa lebih susah ya, langsung nih fase yang gw alami :

1. Menentukan "To-DO-List" 
Memilih satu dari sekian banyak list pekerjaan aja bisa menghabiskan waktu dua jam. Dari sekian banyak list yang kita buat seringkali kita menginginkan semua list dapat kita selesaikan, iya sih, tapi bagaimana menyelesaikannya adalah pertanyaan selanjutnya? apakah memang semua list harus kita kerjakan ?

2. Masih Belum Yakin
Tapi entah kenapa kalau memilih satu jenis list dari sekian banyak membuat saya merasa kurang atau merasa gw harus mengerjakan yang lain nya juga, gw gak mau yang ini ketinggalan, trus yang itu juga gw gak mau ketinggalan, jadi semua pengen aku kerjakan secara bersamaan.

3. Godaan Datang Di Saat Yang Tepat
Takkala sedang mengerjakan satu jenis pekerjaan, kadang godaan untuk mengerjakan pekerjaan yang lain akan muncul dan itu akan membuyarkan konsentrasi dan akhirnya bubar jalan.

4. Ini Gak Akan Berhasil, Coba Lagi Yang Lain
Sementara waktu terus berjalan, dan tidak ada satupun yang berhasil, hingga akhirnya injury time tidak ada satu gol pun tercipta.

5. Akhirnya Saya Memutuskan, Ternyata Sulit Sekali
Akhirnya saya memutuskan untuk memilih satu, tapi waktu sudah tinggal sedikit, dan akhirnya itupun berlalu saja yang satu itupun tidak dapat saya kerjakan. Akhirnya pekerjaan tidak ada satupun....

yang selesai, semua menjadi menumpuk, pikiran stress dan tidak ada hasil, sementara waktu dan tenaga terbuang sia-sia.

So Apakah yang harus saya lakukan ? Apakah saya akan berhasil ?

Nantikan tulisan saya selanjutnya !

I write about productivity, habits, decision making, programming, writing and personal finance. What It Takes To Be Free.

This Is The Oldest Page