Do less | The Power Of Habit

Diberdayakan oleh Blogger.

Pra Sangka : Mau Negatif Atau Positif

Pra berarti sebelum, Pra Sangka berarti sebelum menyangka.

Di pergaulan kita sehari - hari pra sangka ini sangat besar pengaruhnya, bahkan dengan pra sangka saja seseorang bisa bertengkar dengan sahabatnya sendiri atau dengan keluarganya sendiri.

Biasanya pra sangka ini muncul karena adanya pihak yang memberi informasi yg mungkin salah, misalnya seseorang menyampaikan sesuatu ke teman nya, "katanya si anu gini loh", "ato katanya itu gak bagus loh","katanya orang2 gak suka sama dia, krna katanya dia itu orang nya begini begitu loh".

Kalo kita menelan "katanya" ini bulat2 (kayak tahu bulat, digoreng panas2, cuma lima ribuan), bisa2 hati kita ikut panas, dan kita pun jadinya berprasangka negatif.

Hampir setiap kita pernah mengalami hal  seperti ini, baik dari teman, sahabat, rekan kerja, bahkan anggota keluarga sendiri.

Trus gimana menyikapi sesuatu yang "katanya" ini supaya kita terhindar dari prasangka negatif.

Yang saya lakukan adalah seperti ini :

1. Tidak langsung percaya dengan omongan "katanya"
2. Lihat siapa yang ngomong, kalau kelakuan nya emg suka ngomongin orang, ya sudah anggap angin lalu aja tuh
3. Melihat penting atau tidak nya informasi itu, kalau penting boleh lah dikeep dl tapi kalo gak penting hanya terima aja infonya, tanpa merubah persepsi saya, ibarat kata, ya cuma sekedar lewat ajalah, gak perlu ditanggapi.
4. Kalau memang penting, berarti saya harus melakukan cross check terlebih dahulu kebenaran dari info nya, mencari fakta yang sebenarnya, ato mencari opini kedua (second opinion) dari orang lain atau sumber lain.
5. Kalau gak benar, langsung buang aja informasi "katanya" tadi, menjadi penilaian tersendiri buat saya kepada org yg menyampaikan, berarti dia berbohong atau berniat melakukan sesuatu yang gak bener.
6. Nah, kalau ternyata infonya benar, ya sudah berarti begitulah adanya, berarti "katanya" tadi bisa kita pastikan benar adanya.

Kalai sudah begini kan enak, pra sangka negatif gak akan ada lagi. Setiap informasi yang masuk kita saring dulu, dipilah dulu, buang yang gak benar, dan sisakan yang benar dan baik.

Oke, misalnya "katanya" si anu orangnya oportunis, dan kita diajak untuk gak usah berteman dengan dia, org nya gak asik. Dan ternyata dari beberapa orang yang kita kenal dan mengenal dia, semuanya berpendapat sama, semuanya mengatakan hal yang sama, trus apakah kita ikut dengan mereka untuk menjauhi dia?

Kalau saya berpendapat sebaiknya jangan, perlakukan lah dia selayaknya teman, selayaknya sahabat, kalau dia orangnya oportunis ya urusan dia lah itu, tapi kita tetap melakukan hal baik kepadanya, dan moga2 dengan kebaikan yang kita lakukan, bisa merubah sifatnya yang oportunis tadi, kita jadi orang yang berpengaruh baik buat teman2 kita.

Dan akhirnya jurus "katanya" pun bisa kita likis perlahan lahan dari dunia persilatlidahan ini.

So, begitulah kira2 cerita saya ini, semoga bermanfaat yah gaes....

Seperti biasa, makasih sudah mampir ke blog saya ini....

Kalian luarbiasa....(K huruf besar)